Kooshardjanto's Room

Kerajinan Daun Kelapa Disukai Konsumen Mancanegara | November 25, 2008

Sedari dulu daun kelapa memang telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Namun mungkin baru Citra Alam yang memanfaatkannya sebagai bahan baku untuk berbagai produk kerajinan.
Wiyono

Semua orang mengakui pohon kelapa adalah tumbuhan multi guna. Nyaris semua bagian tanaman mulai dari akar hingga pucuk pohon mempunyai manfaat sendiri-sendiri. Demikian pula daunnya, sudah sejak jaman dahulu dipakai orang untuk berbagai keperluan. Janur (daun kelapa yang masih muda), khususnya oleh masyarakat tradisional sering dipergunakan sebagai bahan penghias dalam upacara atau acara perhelatan. Malah bagi sementara masyarakat kita, setiap tahun pada setiap lebaran merasa kurang afdhol apabila hidangan di atas meja tidak dilengkapi nasi dibungkus ketupat dari daun kelapa.
Akan tetapi pengusaha yang memakai daun kelapa kering untuk dijadikan aneka barang kerajinan seperti yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan teman-temannya terbilang masih langka. Perajin asal Sedayu Bantul ini mulai 1998 lalu memperkenalkan produk-produk kotak tisu, tempat pensil, penjepit kertas, bingkai foto, kotak set, miniatur rumah joglo, kotak tempat sampah, maupun bantal, guling dan lain-lain, berbahan utama daun kelapa.
Padahal seperti dituturkan, Tanto, usaha tersebut pada awalnya dijalani secara tidak sengaja. Ketika terjadi krisis moneter dan menimbulkan gelombang PHK, mantan karyawan perusahaan boneka itu menjadi salah satu korbannya sehingga terpaksa pulang ke kampung halaman. Saat itulah awal timbulnya gagasan untuk memanfaatkan daun kelapa sebagai bahan baku produk seni.

Bagai pucuk dicinta ulam tiba, saat ide tersebut disampaikan kepada bekas teman-teman sepermainannya, Bekti Cahyono juga Nugroho Dewoyanto, segera mendapat sambutan positif. Dengan mengumpulkan modal sekitar Rp 800 ribu akhirnya berdirilah Citra Alam hingga sekarang. Selanjutnya dalam operasional keseharian, Bekti yang saat ini menjabat Disperindagkop Kabupaten Gunung Kidul membantu dalam bidang pemasaran produk. Sedangkan Dewo yang juga seorang aktifis LSM di UGM menangani manajemen. Maka Tanto fokus mengurus produksi dibantu oleh 7 orang karyawan tetap dan beberapa karyawan paruh waktu. Pada waktu banyak order jumlahnya bahkan bisa mencapai 25 orang.

Saat ini kapasitas produksi, untuk jenis produk termudah seperti place mate bisa mencapai 4000 buah per bulan, sedangkan untuk produk yang sulit semisal round set, bantal atau guling, dalam sebulan mampu menghasilkan 100 set. Harga masing-masing unit berkisar mulai Rp 3.500,00-Rp 150.000,00.Yang jelas sebagian besar dain adalah desain umum yang sudah ada di pasaran, hanya material pembungkusnya saja diganti daun kelapa. ”Ada juga pemesan yang membawa desain sendiri dan kita yang membuatnya,” ujar Bekti.
Bekti menjelaskan, teknik pembuatan kerajinan dari serat daun atau meterial alami lainnya telah banyak digunakan. Oleh karenanya mereka enggan bersaing dengan para pemain lama sehingga memilih material dari daun kelapa. Alasannya masih jarang pengrajin yang menggunakan tersebut. Bahan bakunya pun murah. ”Selama ini daun kelapa kering masih dianggap sampah, karena umumnya hanya lidi saja yang digunakan sementara lembaran daunnya cuma dibuang,” tuturnya.

Sesuai dengan istilah yang dipakai, kerajinan daun kelapa adalah kerajinan dengan meterial pembungkusnya dari daun kelapa. Melihat hasilnya, sepintas orang akan langsung bisa menebak bahan pembuatannya. Meskipun tampak sederhana tetapi justru itulah letak keunikannya. Bahan rangkanya adalah kertas karton, lalu ditambah dengan bahan-bahan pembantu berupa kain puring, blaco serta memakai lem, baik lem putih maupun kuning.
Proses pembuatannya, daun kelapa diseleksi yang benar-benar kering dari pohon dan dipilih yang utuh. Setelah di-mal dengan ukuran tertentu, seterusnya dipanaskan dan dianyam. Lembaran anyaman itu nantinya dipakai untuk melapisi kerangka produk kerajinan yang akan dibuat. ”Pada perkembangan selanjutnya daun kelapa dikombinasi dengan daun lontar, warnanya kuning cenderung putih. Hasilnya adalah warna selang-seling antara daun kelapa dan lontar dengan motif seperti papan catur,” papar Bekti.

Meskipun terbilang unik namun diakui produk tersebut tidak serta-merta memperoleh pasar bagus. Penyebab utamanya boleh jadi karena relatif baru sehingga produknya kurang dikenal. Sementara itu, kesempatan melakukan promosi terbatas akibat masih mengalami kendala permodalan.
Sejak mulai berproduksi strategi pemasaran ditempuh dengan jalan menawarkan produk kerajinan daun kelapa tersebut ke outlet-outlet, lewat internet. Citra Alam juga pernah beberapa kali mendapatkan kesempatan mengikuti pameran. Meskipun fasilitas yang diberikan oleh pemerintah cukup banyak, tetapi seperti dikatakan Bekti, tetap dirasa kurang memadai.

Karena belum memiliki pasar sendiri, hingga saat ini produksi yang dilakukan Tanto dan teman-temannya sebagian besar masih mengandalkan datangnya pesanan. Pembeli biasanya melakukan order produk untuk kemudian dijual ke luar negeri. Ini satu bukti bahwa sebetulnya kerajinan tersebut cukup laku terutama di manca negara. “Sebetulnya dilihat dari jenis produk, maka semuanya sudah tersedia di pasaran. Tetapi konsumen menjadi tertarik sebab menganggap bahannya berasal dari material yang di luar kebiasaan,” tukas Bekti.
Maka setidaknya, bagi Tanto dan kawan-kawan, kerajinan daun kelapa ini tetap menyisakan harapan bahwa suatu waktu bisa maju dan berkembang. Apa lagi mereka memiliki keyakinan usaha mereka ini dapat menjadi salah satu pilot project usaha lain di luar pertanian. Karena menurut mereka, selama ini warga di sekitar yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian semakin sulit untuk memperoleh penghasilan yang cukup.

Analisa Usaha Kerajinan Daun Kelapa:
(Asumsi omset produksi 1000 unit @ Rp 20.000,00 per bulan)

Modal Usaha Rp 800.000,-
Upah Pegawai (10 orang) Rp 7.000.000,-
Biaya Operasional Rp 3.000.000,- +
Total Pengeluaran Rp 10.800.000,-

Penjualan Rp 20.000.000,-
Keuntungan Kotor Rp 9.200.000,-
(from majalah pengusaha)


2 Komentar »

  1. saya bekti dari citra alam yang njenengan tulis
    terimakasih

    Komentar oleh Bekti — Februari 7, 2009 @ 3:17 am

  2. mas bisa minta alamat atau nomer hp yang bisa dihubungi ngga?

    Komentar oleh ata — Juni 6, 2009 @ 4:32 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: