Kooshardjanto's Room

Boneka pun Bisa Melahirkan | November 13, 2008

Awalnya hanya memanfaatkan limbah kayu, kini Ummu mengkreasi boneka yang mempunyai “alat-alat reproduksi.”

Russanti Lubis

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Permainan yang paling dekat dengan mereka adalah boneka. Sebagai ibu dari (waktu itu) empat balita (bawah lima tahun, red.), Ummu Masmuah memahami betul hal ini. Tetapi, ia tidak ingin anak-anaknya sekadar bermain atau memainkan permainan yang membuat mereka anteng (tenang, red.). Ia ingin pula permainan itu menjadikan mereka tumbuh dengan cerdas.

Terpicu oleh keingin tersebut, Direktur Utama PT Haula Sejahtera ini, membuat sendiri mainan untuk anak-anaknya berupa alat peraga atau mainan yang mengandung unsur pendidikan. “Saya membuat Haula bermula dari keinginan saya untuk mencerdaskan anak-anak saya. Dalam perkembangannya, saya juga ingin mencerdaskan anak-anak lain di sekitar saya,” kata perempuan yang biasa disapa Ummu ini. Sekadar informasi, Haula merupakan merek dagang alat peraga tersebut.

Awalnya, Haula berupa mainan yang terbuat dari limbah kayu MDF, yang dikumpulkannya dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kemudian, karena permintaan dari konsumen, Haula juga berupa aneka macam boneka dari dakron dan bahan lembut lain, mengingat konsumennya adalah anak-anak berumur 0 hingga satu atau dua tahun. Boneka-boneka tersebut mencakup boneka muslimah, boneka keluarga, boneka profesi, dan boneka kelamin.

Boneka kelamin? “Ya. Boneka kelamin Haula memang secara jelas menunjukkan kelaminnya. Mereka mempunyai (maaf) vagina dan penis. Selain itu, di dalam vagina boneka kelamin perempuan, terdapat boneka lain yang berukuran lebih kecil yang diibaratkan sebagi bayi berikut plasentanya. Ketika proses persalinan terjadi, ‘bayi’ tersebut akan ditarik atau dikeluarkan dari vagina ‘ibunya’. Boneka kelamin ini juga ditempeli rambut kemaluan sebagai bagian dari pubertas,” jelasnya.

Boneka kelamin yang pada mulanya cuma untuk memenuhi pesanan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) ini, memang belum diproduksi sebanyak dan serutin boneka-boneka lain sebab segmennya adalah para murid SMP dan SMA, sedangkan pangsa pasar Haula adalah murid-murid TK. Boneka kelamin juga belum dipasarkan secara umum, lebih banyak ditawarkan ke sekolah-sekolah kebidanan, yang notabene memang mempelajari proses reproduksi.

“Sedangkan untuk anak-anak yang ingin mengetahui bagaimana proses melahirkan dan dari mana bayi keluar, sebenarnya dapat membacanya dari buku. Tapi, melalui boneka peraga semacam ini, akan membuat anak lebih mudah memahami dan mengingatnya. Lebih dari itu semua, jelaskan kepada anak sebatas apa yang dia tanyakan. Tidak perlu diperpanjang. Sebaliknya, jika si anak terus bertanya, jelaskan secara ilmiah. Intinya, anak mengetahui dari mana sebenarnya bayi itu keluar. Sebab, selama ini, menurut persepsi mereka, bayi keluar dari perut atau pusar. Tentang efek sampingnya pada anak, bisa berbeda-beda sesuai dengan tingkatan umur mereka. Untuk mereka yang kemudian merasa seram, kami mengatasinya dengan menggunakan bahasa yang berkonotasi biologis. Dan, ini bukan sesuatu yang tabu!” tegasnya.

Merunut ke belakang, Haula dibangun pada tahun 1998. Namun, saat itu belum fokus sebagai sebuah bisnis. Karena, kala itu Ummu masih dalam taraf bermain, lebih tepatnya, sambil bermain dengan anak-anaknya. Ketika muncul permintaan dari orang-orang di sekitarnya dan permintaan ini semakin lama semakin banyak, Haula pun tumbuh besar hingga menjadi sebuah industri. “Kami mulai serius menjadikannya sebagai sebuah bisnis sekitar lima atau tujuh tahun lalu. Selanjutnya, sekitar tiga tahun silam, kami berbadan hukum dalam bentuk perusahaan terbatas. Semuanya berlangsung mengalir saja, tapi ‘memaksa’ saya untuk ngantor setiap hari, padahal saya ‘hanya’ ingin sebagai ibu rumah tangga,” katanya, tanpa bermaksud menyesali kondisi ini.

Kini, perusahaan yang dibangun dengan modal awal antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu ini, telah membukukan omset lebih dari delapan dijit setiap bulannya dan peningkatan penjualan hampir 100% setiap tahunnya. Selain itu, Haula juga dapat dijumpai di seluruh Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dari bengkelnya yang terletak di Cilincing dan Citayam, setiap bulan diproduksi hampir 1.000 buah Haula dalam bentuk boneka, sedangkan untuk yang berbentuk mainan dari kayu tak terhitung jumlahnya. Haula boneka dijual dengan harga mulai dari Rp15 ribu dan Rp5 ribu untuk Haula mainan dari kayu.

Produk yang di kalangan seller-nya dikenal sebagai harga murah barang bagus ini, dapat dijumpai di gerainya yang terletak di Rukan Permata Jatinegara, ITC Cempaka Mas, dan Gedung UKM Tanah Abang. Pada satu sisi, ada baiknya pendidikan seks diajarkan kepada anak sejak usia dini. Bagaimana efeknya sangat tergantung pada bagaimana mengajarkannya dan alat peraga yang digunakan. Mungkin boneka kelamin Haula dapat menjadi alternatif yang aman. (from majalah pengusaha)


Ditulis dalam bisnis
Tags: , ,

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: