Kooshardjanto's Room

Bisnis Mukenah Batik Lukis Hasilnya Manis | November 13, 2008

Mukenah bukan barang baru. Namun dengan sentuhan batik tangan membuat produk Rini Aidi terlihat eksklusif. Wiyono

Siapa tidak kenal mukenah? Menutup aurat menjadi salah satu persyaratan syahnya ibadah shalat. Artinya, terutama bagi wanita muslim saat hendak bersembahyang harus menutup seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Busana khusus untuk memenuhi hal itu biasanya adalah mukenah.
Dilihat dari bentuknya, secara umum mukenah dari waktu ke waktu tidak banyak berubah yakni terdiri dua bagian, atasan maupun bawahan. Sementara variasi desain lebih banyak terletak pada pemilihan bahan dan warnanya. Namun karena lebih memperhatikan fungsinya sehingga corak polos lebih banyak dipakai. Sedangkan sebagai pemanis cukup dengan tambahan renda, bordir, sulaman, atau batik lukis yang akhir-akhir ini sedang ngetrend.

Rini Aidi, salah seorang pengusaha mukenah batik dengan teknik lukis tangan mengungkapkan, oleh karena bersifat eksklusif maka pasarnya lebih mengarah pada segmen menengah ke atas. Sebagai gambaran, satu paket mukenah batik lukis kepunyaannya yang memakai merek Kalimah dibanderol seharga Rp 250 ribu untuk bahan katun biasa. Sedangkan yang menggunakan satin atau sutera dijual dengan harga Rp 750 ribu rupiah.
“Saya pikir harganya tidak mahal,” kilah wanita yang sedari awal sebelum membuka usaha sudah memiliki hobi koleksi mukenah itu. Mukenah model apa saja pernah ia beli. Malahan ia sering pula membuat desain mukenah bordir lalu dijahitkan hanya untuk dipakai sendiri. “Mukenah yang saya beli harganya ada yang jauh lebih mahal dari itu. Satu paket seharga Rp 750 ribu adalah harga untuk produk biasa di galeri kelas atas,” tambahnya.

Keunikan mukenah batik lukis terletak pada ornament hiasan yang sepenuhnya merupakan karya seni yang lukisan tangan sehingga berlainan dengan sablon dan termasuk kerajinan handmade. Motif-motif lukisannya dipilihkan sesuai dengan sifat perempuan yang menyukai bunga dan daun-daunan, kecil-kecil tetapi menarik dan lucu-lucu.
Adapun produk Kalimah juga memiliki keistimewaan dibanding kain batik lukis yang sudah ada sebelumnya. Biasanya batik lukis menggunakan cat akrilik dan cara melukisnya dengan menyapukan kuas. Meski eksklusif, tetapi sepintas hasilnya kelihatan tidak berbeda jauh dengan motif batik-batik Pekalongan. Agak berbeda, Rini memilih bahan tinta sablon berjenis rubber. Sedangkan teknik menggambar yang dipergunakan dengan alat contong seperti alat untuk melukis pasta saat membuat kue. Hasilnya sedikit efek timbul dan dapat terasakan saat diraba atau dielus.

Karena berbakat desain, Rini memanfaatkan kemampuannya dengan mengembangkan bermacam-macam kreasi desain mukenah. Misalnya, mukenah tidak hanya terdiri atas dan bawah saja, untuk perempuan yang keseharian sudah berkerudung dibuatkan mukenah yang memakai leher. Serta ada pula beberapa model lain yang belum dikeluarkan. Di dalam satu paket mukenah sudah berikut tas, sajadah dan mukenah. Sedangkan untuk kado ditambah pula tasbih yang dirangkai sendiri.

Lulusan perguruan tinggi di Jepang yang kini masih karyawan di perusahaan perbankan di Jakarta itu bertutur tentang awal mula usahanya, ketika secara kebetulan bertemu dengan mantan rekan kerja di Bandung yang saat itu hendak berbisnis namun terbentur modal. “Kalau mukenah bordir sudah banyak, tetapi ini mukenah batik lukis,” ucapnya menyatakan ketertarikannya sehingga bersedia menjadi pemodal. Peristiwa itu terjadi pada 2003, dengan investasi awal Rp 15 juta jadilah keduanya bekerja sama. Itu pula sebabnya namanya menggunakan kata Kalimah, artinya Karya (dua orang) Muslimah. Rekannya di Bandung lebih mengurusi produksi, sementara dia masih tetap bekerja sambil berkonsentrasi pada pemasarannya meski cukup melalui model mulut ke mulut.

Pada tahun pertama hingga kedua ternyata usaha tersebut belum mengalami perkembangan berarti. Kendalanya cukup banyak, salah satu di antaranya yaitu kendala komunikasi. “Usaha tersendat, salah satunya karena kesulitan komunikasi. Pas ada order, barangnya lama baru sampai, tetapi sebaliknya begitu tersedia barang, sampai sekian lama tidak ada yang memesan,” Rini sempat mengeluh.
Masalah utama yang lain adalah, pada waktu itu mukenah jenis ini belum begitu populer. Meskipun sudah banyak teman dekat, rekan kerja, dan kerabat yang telah memesan produk, tetapi secara umum mukenah batik lukis belum begitu dikenal masyarakat.

Keadaan baru mulai berbalik ketika produk Kalimah sempat diikutkan dalam pameran produk tekstil ITAT di Jakarta, sekitar dua tahun lalu. Pada saat itu buyer luar negeri maupun antar sesama peserta pameran saling kenal melalui kartu nama. Sejak saat itu sampai dengan masa lebaran mereka mulai kebanjiran pesanan. Ketika awal usaha produksi cukup dilakukan oleh satu orang, namun kini sudah bertambah menjadi lima orang, bahkan sesekali dirinya pun terpaksa ikut turun tangan.

Diakui, seperti pada umumnya penjualan mukenah ramai hanya semusim, menjelang puasa hingga lebaran. Sebagai selingan, Rini bersama rekan timnya coba berkreasi dengan produk lain, seperti kaos berlengan panjang, kain penutup tangan, dan terakhir sarung hp batik lukis untuk souvenir. Terdapat pula tas batik untuk mukenah yang dijual terpisah. Produk kecil-kecilan itu dijual mulai harga Rp 15 ribu, sedangkan untuk baju kaos Rp 75 ribu. Tanpa disangka sambutan pasar cukup lumayan, pesanan tidak pernah henti. “Setiap saya bikin pasti habis,” tukasnya.
Ibu dua putra tersebut pantas berlega hati. Sekalipun keinginan untuk memiliki outlet khusus sampai detik ini belum terlaksana, beberapa masalah penjualan mulai teratasi. Di samping tetap ikut pada beberapa pameran, saat ini telah ada sejumlah mitra kerja sama pemasaran hingga ke beberapa daerah di Indonesia. Bagi yang tertarik menjadi agen, ia memakai sistem bayar tunai dengan minimal order sepuluh set untuk memperoleh diskon. Kini, berenam dalam sebulan rata-rata mereka mampu mengerjakan sekitar 100 buah pesanan dengan omset Rp 25 juta-Rp 75 juta. (From Majalah pengusaha)


1 Komentar »

  1. aku tertarik dengan batik lukis. klo pengen tahu cara n bahan yang dipake boleh ga yaa. aku pengen nularkan teknik itu pada anak didikku

    Komentar oleh suhartono — Agustus 4, 2010 @ 2:25 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: